Category Archive Latar Belakang

ByAdmin

Pertanian Keluarga Memberi Makan Dunia, Memelihara Bumi Kita

Sekitar 3 miliar penduduk dunia tinggal di pedesaan, kebanyakan mereka adalah keluarga petani kecil, hidup dari pertanian skala kecil, disebut Pertanian Keluarga (Family Farming). Dari jumlah itu, sekitar 1,5 miliar perempuan dan laki-laki, bertani di lahan-lahan kurang dari 2 hektar, sekitar 410 juta orang hidup dari mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, sementara 100-200 juta orang menjadi penggembala, dan sekitar 100 juta hidup sebagai nelayan kecil, serta 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat asli yang sebagian besar bertani. Selain itu, masih ada 800 juta orang lainnya yang berkebun di pekarangan rumah mereka di perkotaan.

Keberadaan keluarga-keluarga petani kecil dengan model Pertanian Keluarga itu mempunyai nilai strategis dengan fungsi ekonomis, sosial, budaya, lingkungan, dan kewilayahan. Baik perempuan perempuan maupun laki-laki petani kecil dalam Pertanian Keluarga menyumbangkan 70 persen pangan dunia. Sehingga Pertanian Keluarga adalah basis produksi pangan yang berkelanjutan, bertujuan mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan, mengelola dan menjaga kelestarian lingkungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, serta menjadi landasan bagi pelestarian warisan sosial-budaya yang penting bagi bangsa-bangsa dan komunitas perdesaan di seluruh dunia.

Sepertiga penduduk bumi yang merupakan petani gurem (peasant), petani kecil (small farmer), dan buruh tani tanpa tanah (landless laborers), sejak era kolonialis sampai era industrial saat ini, mereka tetap eksis. Mereka memiliki lahan-lahan kecil, berproduksi secara terbatas, namun lebih mandiri. Mereka menanami lahan dengan sangat intensif, dengan menanam beberapa tanaman dalam satu lahan secara bersamaan (multicropping). Selain itu, petani kecil juga memberdayakan lahan dengan menanam bahkan sebelum satu jenis tanaman dipanen (intercropping). Ciri lainnya adalah mereka lebih mengandalkan kepada tenaga kerja sendiri, dan mereka terjun langsung dengan tangan dan tenaganya sendiri mengolah tanah, mencabut rumput, menyebar pupuk, dan sampai memanen hasilnya.

Pada Desember 2011 Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menetapkan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF 2014). Keberadaan petani kecil juga mendapat perhatian besar PBB, terutama pada pidato Direktur Jenderal FAO pada acara Hari Pangan Sedunia (the World Food Day) pada 16 Oktober 2012 dengan topik “Small-Scale Farmers as A Key to Feeding the World”.  Selain itu, PBB juga mengeluarkan makalah dengan judul “Small Farmers Feed the World”.Itulah bentuk pengakuan dan penghargaan bangsa-bangsa di dunia kepada petani kecil di seluruh dunia atas peran penting mereka dalam menjaga pasokan pangan dunia.

PBB sedang menyusun Deklarasi PBB tentang Hak Asasi Petani dalam Human Rights of Peasant and Other People Working in Rural Areas. Naskah ini telah menjalani proses semenjak tahun 2009, sebagai upaya perjuangan konstruktif menjawab persoalan krisis pangan, kemiskinan dan marjinalisasi pedesaan. Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengangkat studi ini menjadi upaya bentuk hukum dan kebijakan internasional dan telah menghasilkan sebuah resolusi PBB A/HCR/21/19. Selain pemerintah (intergovernmental working group), penyusunannya juga melibatkan partisipan lain yaitu petani (peasant), masyarakat adat, perempuan pedesaan, nelayan (fisherfolk), kelompok berburu-meramu (hunter and gatherer), kelompok penggembala (pastoralists) dan kelompok lain yang hidup di pedesaan.

Deklarasi ini nantinya akan mengubah berbagai regulasi tentang petani, termasuk di Indonesia. Karena itu, penting untuk mencermati bagaimana petani dipersepsikan dalam berbagai regulasi formal di Indonesia. Dengan menelusuri berbagai regulasi itu, terlihat bahwa petani kecil belum menjadi entitas khusus yang berbeda. Kebijakan legal hanya mengenal kata “petani” sebagai entitas tunggal, namun belum ada istilah “petani kecil”.

Bagaimana terpenuhinya hak-hak pokok petani dalam penguasaan lahan, benih, pangan, ilmu pengetahuan, dan berorganisasi adalah upaya yang sangat penting dilakukan. Keberadaan petani kecil yang penting bagi dunia ini diakui oleh Kajian International Assessment of Agricultural Knowledge, Science and Technology for Development (IAASTD, 2008). Panel ini merupakan bentukan FAO yang terdiri dari 400-an ahli dari beragam ilmu dan negara. Panel ini menyimpulkan bahwa model pertanian ekspor-industrial-monokultur bukan resep ajaib untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan. Model itu malah menghancurkan lingkungan (air dan tanah), menggerus keanekaragaman hayati dan kearifan lokal (pola tanam, waktu tanam, olah tanah, dan pengendalian hama), serta menyebabkan kerentanan.

Selain itu, menurut IAASTD, akar terdalam krisis pangan adalah pemerintah lupa mengurus sektor pertanian skala kecil, selain karena aturan perdagangan yang tidak adil, dan dumping negara maju. Oleh karena itu, untuk mengentaskan kemiskinan, memerangi kelaparan, dan degradasi lingkungan, IAASTD menyarankan agar memperkuat pertanian skalakecil dan meningkatkan investasi pertanian agroekologis, memberi perhatian pada kearifan lokal, mengubah akses dan penguasaan  sumber daya (air, tanah, dan modal) dari korporasi ke komunitas lokal, dan memperkuat organisasi tani. Pertanian kecil juga jauh lebih produktif daripada pertanian industrial karena mengkonsumsi sedikit input terutama bahan bakar minyak, lebih mampu beradaptasi dan pejal termasuk dalam menghadapi perubahan iklim, keberlanjutan,serta menjunjung kearifan lokal dan keragaman hayati.

Sebagai tindak lanjut untuk memajukan dan membela Pertanian Keluarga di tingkat nasional, pada tanggal 4 Juli 2014 di Jakarta, melalui hasil sebuah diskusi beberapa organisasi masyarakat, berdirilah Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) Indonesia. Hingga kini, anggota KNPK Indonesia terdiri dari:

  1. Aliansi Organis Indonesia (AOI)
  2. Aliansi Petani Indonesia (API)
  3. Aliansi Perempuan Petani Indonesia (APPI)
  4. Bina Desa
  5. Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI)
  6. IHCS (Indonesian Human Rights Committee for Social Justice)
  7. Serikat Nelayan Indonesia (SNI)
  8. Serikat Petani Indonesia (SPI)
  9. Slow Food Jabodetabek
  10. SAINS (Sayogyo Institute)
  11. Serikat Paguyuban Petani Qoriyah Toyyibah (SPPQT)
  12. Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHTI)
  13. FIELD

Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) Indonesia melakukan berbagai kegiatan, di antaranya penelitian; advokasi kebijakan yang berpihak kepada pertanian keluarga; diskusi; dokumentasi dan penyebarluasan praktik-praktik pertanian organik berupa film, buku, brosur; pameran dan pemasaran produk-produk anggotanya.

Alamat Sekretariat

Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK) Indonesia

d/a Aliansi Petani Indonesia (API)

Jl. Kayu Manis Lama 1 No.3 RT.02/RW.08

Kelurahan Palmeriam, Kecamatan Matraman

Jakarta Timur 13140

Telp.62-21-

Email : familyfarmingid@gmail.com

www.familyfarmingid.org

Translate »